Reog Ponorogo, Kebudayaan Dan Kesenian Asli Indonesia
flickr.com
Reog ponorogo merupakan salah satu seni tarian di Jawa Timur yang
sampai saat ini masih terus di lestarikan. Reog ini merupakan
kebudayaan dan kesenian asli Indonesia. Memang budaya dan seni ini
sering dikaitkan dengan hal-hal yang berbau mistis, oleh karenanya tak
jarang sering dihubungkan dengan dunia kekuatan spiritual bahkan dunia
hitam.
Lepas dari hal itu, Reog Ponorogo ini oleh masyarakat biasanya sering
dipentaskan saat acara pernikahan, khitanan, hari-hari besar nasional,
dan juga festival tahunan yang diadakan oleh pemerintah setempat.
Festival yang diadakan oleh pemerintah tersebut terdiri dari Festival
Reog Mini Nasinonal, Festival Reog Nasional dan juga pertunjukan pada
bulan purnama yang bertempat di alun-alun ponorogo. Sedangkan Festival
Reog Nasional itu selalu diadakan saat akan memasuki bulan Maharam atau
yang sering dalam tradisi Jawa itu biasa di sebut dengan bulan Suro.
Pementasan reog ponorogo merupakan rangkaian dari acara Grebeg Suro atau
juga dalam rangka ulang tahun kota Ponorogo.
Dalam rangka menyambut tahun baru islam atau yang sering dikenal
dengan sebutan tanggal satu Suro, pemerintah kabupaten Ponorogo
mengadakan event budaya terbesar di Ponorogo yaitu Grebeg Suro. Saat
Grebeg Suro berlangsung, biasanya saat pementasan kesenian Reog Ponorogo
itu selalu dibanjiri penonton baik dari semua penjuru Ponorogo, bahkan
karena pagelaran kesenian ini bertaraf nasional, tak jarang wisatawan
dari luar daerah Ponorogo bahkan dari luar negeri pun turut hadir untuk
melihat acara pagelaran kesenian Reog Ponorogo ini. Hal inipun
dimanfaatkan oleh pemerintah daerah Ponorogo sebagai salah satu senjata
andalan untuk meningkatkan daya tarik wisata Ponorogo itu sendiri.
Selain festival Grebeg Suro, Festival Reog Mini tingkat nasional juga
bisa menyedot antusias para wisatawan. Seluruh peserta yang
mengikutinya merupakan generisa muda, rata-rata mereka masih duduk
dibangku sekolah setingkat SD atau SMP. Salah satu tujuan dari festival
Reog Mini tingkat nasional adalah untuk tetap menjaga kesenian ini terus
berlangsung turun temurun, karena generasi muda inilah kelak yang akan
meneruskan kesenian Rog ini. Semua pola kegiatan yang ada di festival
Reog Mini hampir sama dengan Festival Reog Nasional, yang membedakannya
hanya pada peserta sera waktu pelaksanaannya saja. Waktu pelaksanaan
Festival Reog Mini ini pada bulan Agustus.
Rangkaian pementasan kesenian Reog yang lainnya dan tak kalah seru
dari pementasan sebelumnya yaitu pementasan atau pertunjukan Reog Bulan
Purnama. Pertunjukan ini selalu rutin dilaksanakan bertepatan dengan
adanya malam bulan purnama. Biasanya peserta yang ikut dalam pentas ini
merupakan grup-grup lokal perwakilan dari kecamatannya masing-masing.
Selain itu dalam pementasan ini juga sering dijumpai beberapa
pertunjukan tari garapan yang berasal dari sanggar seni yang ada di
Ponorogo.
Sejarah Reog Ponoro
Banyak cerita yang berbeda-beda akan sejarah Reog Ponorog oitu hadir,
namun cerita yang paling populer dan berkembang di masyarakat adalah
cerita tentang pemberontakan dan perlawanan seorang abdi kerajaan yang
bernama ki Ageng Kutu Suryonggalan pada masa kerajaan Majapahit Bhre
Kerthabumi. Bhe Kertabumi itu sendiri adalah raja Majapahit yang
berkuasa sekitar abad ke-15.
Di ceritakan sang raja sangat korup dan bertindak dzhalim kepada
rakyatnya, hal ini membuat seorang Ki Ageng Kutu marah kepada sang raja.
Apalagi didapati permaisuri sang raja yang keterunan cina mempunyai
pengaruh kuat pada kerajaan. Selain itu, sahabat permaisuri yang masih
keturunan Cina mengatur segala gerak-geriknya. Saat itu Ki Ageng Kutu
berpendapat, kekuasaan kerajanan Majapahit akan segera berakhir jika hal
ini terus dibiarkan begitu saja. Kemudian dia akhirnya meninggalkan
sang raja dan mendirikan sebuah perguruan yang didalamnya mengajarkan
seni bela diri, ilmu kekebalan diri kepada anak-anak muda. Dia berharap,
kelak anak-anak muda ini akan membuat kebangkitan kerajaan Majapahit
seperti sedia kala dan bisa melawan terhadap kerajaan Bhre Kerthabumi.
Namun Ki Ageng Kutu juga menyadari, pasukan yang dia bangun masih
terlalu kecil dan belum terlalu kuat untuk mmelakukan perlawanan
terhadap pasukan kerajaan. Oleh karenanya, Ki Agung hanya mampu
memanfaatkan kepopuleram Reog. Seni Reog ini dimanfaatkan oleh Ki Agung
sebagai sarana untuk mengumpulkan massa sebagai perlawanan terhadap
kerajaan. Selain itu, hal ini dilakukan oleh Ki Agung sebagai sarana
komunikasi utuk menyindir penguasa pada waktu itu.
Dalam pertunjukan Reog, ditampilkan sebuah topeng berbentuk kepala
singa yang biasa dikenal “Singa Barong”. Selanjutnya ada juga topeng
yang berbentuk raja hutan yang dijadikan simbol untu Kerthabumi. Di atas
topeng-topeng itu ditancapkan pula bulu-bulu merak sehingga seperti
kipas raksasa yang melambangkan pengaruh kuat para kerabat cinanya.
Jatilan dimainkan oleh kelompok penari gemblak yang menunggani
kuda-kudaan yang menjadi lambang kekuatan pasukan kerajaan Majapahit.
Hal ini menjadi perbandingan terbalik dengan kekuatan warok yang meraka
memakai topeng badut merah yang menjadi lambang Ki Ageng Kutu. Jathilan
sendiri adalah tarian yang menceritakan ketangkasan prajurit berkuda
yang sedang berlatih, tokoh ini disebut dengan Jathil. Sedangkan warok
adalah orang yang mempunyai tekad suci yang memberikan perlindungan dan
tuntunan tanpa mengharap pamrih.
Saat itu kepopuleran Reog yang dibuat oleh Ki Ageng Kutu membuat Bhre
Kerthabumi mengambil tindakan yaitu menyerang perguruan Ki Ageng Kutu.
Pemberontakan dan perlawanan oleh warok dengan cepat diatasi, begitupun
perguruannya dilarang untuk melanjutkan pengajarannya lagi tentang
warok. Akan tetapi, ternyata murid-murid Ki Ageng Kutu masih
melanjutkannya walaupun secara diam-diam. Meski pada waktu itu
perguruannya dilarang, namun kesenian Reog sendiri masih tetap
diperbolehkan untuk diadakan karena sudah menjadi acara atau pementasan
yang populer di mata masyarakat. Hanya saja jalan ceritanya mempunyai
alur yang baru di mana saat itu ditambahkan dengan karakter-karakter
dari cerita masyarakat Ponorogo yaitu Dewi Songgolangit, Kelono
Sewandono dan Sri Genthayu.
Jika tadi sudah bercerita tentang versi reog Ponorogo yang paling
populer, kini versi resmi sejarah Reog Ponorogo adalah cerita tentang
seorang Raja Ponorogo bernama raja kelono yang berniat untuk melamar
putri Kediri, yaitu Dewi ragil kuning Hanum. Saat akan melamar, di
tengah perjalanan dia dihadang oleh Raja Singabarong yang berasal dari
Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari singa dan merak, sedangkan
dari pihak Raja Kelono dan wakilnya yaitu Bujang Anom, hanya dikawal
oleh warok (seorang pria yang memakai pakaian hitam) yang mempunyai ilmu
hitam mematikan. Dalam seluruh tarian yang mereka lakukan, keduanya
mengadu ilmu hitam dan dalam tarian perangnya semua penari dalam keadaan
kerasukan dalam mementaskan tariannya.
Ada juga persi lainnya mengenai sejarag Reog. kali ini ceritanya
tentang perjalanan seorang prabu Kelana Sewandanan yang sedang mencari
gadis pujaannya. Sang Prabu dalam perjalannya didampingi prajurit
berkuda dan patihnya yang setia menemani bernama Pujangganong. Akhirnya
sang Prabu menemukan pujaan hatinya, dan ia jatuh cinta kepada seorang
putri Kediri yang bernama Dewi Saanggalangit. Namun ternyata Dewi
Sanggalangit ini mau menerima Prabu dengan mengajukan satu syarat
kepadanya. Tak lain ternyata syarat itu adalah Sang Prabu harus
menciptakan sebuah kesenian baru. Singkat cerita, kesenian yang menjadi
syarat itu dengan nama Reog yang didalamnya dimasukan unsur mistis dan
kekuatan spiritual.
Sampai Saat ini masyarakat Ponorogo terus mengikuti dan menjaga
warisan leluhur ini dengan sangat baik. Dalam perjalanannya Seni reog
adalah cipta kreasi manusia yang terbentuk dari adanya aliran
kepercayaan secara turun temurun dan masih terjaga keasliannya. Dalam
pelaksanannya, upacara sebelum melakukan Reog Ponorogo ini menggunakan
syarat-syarat yang tidak mudak dilakukan bagi orang awam. orang yang
melakukan kesenaian inipun harus memiliki garis keturunan parental yang
jelas dan hukum adat yang masih berlaku.
Sayangnya perubahan zaman dan perilaku manusia itu sendiri
menyebabkan terjadinya pergeseran makna yang ada dalam kesenian Reog
Ponorogo. Di Ponorogo sendiri kina masyarakat setempat hanya menganggap
kesenian Reog merupakan pemeriah atau hiburan saja dari sebuah acara.
Contohnya pementasan dan pertunjukan Reog yang dilombakan pada
acara-acara tertentu saja yang bertujuan untuk memeriahkan acara itu,
misalnya perlombaan dalam suatu festival.
Tari Reog Ponorogo
Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rentetan dua hingga tiga
tarian pembukaan. Sekitar enam sampai sembilan pria gagah berani yang
memakai pakaian serba hitam dan mukanya dipoles warna merah membawakan
tarian pertamanya. Digambarkan para penari ini merupakan sosok singa
yang pemberani. kemudian datang enam hingga sembilan gadis menaiki kuda
melanjutkan tarian Reog itu. Pada Reog tradisional, biasanya para penari
ini diperankan oleh penari lak-laki yang berpakaian seperti wanita.
Sebagai tarian pembuka, biasanya ada beberapa anak kecil yang membawakan
tarian dengan adegan yang sangat lucu. Nah, tarian yang dibawakan oleh
anak-anak ini dikenal dengan sebuatan Bujang ganong.
Saat tarian pembuka sudah selesai, selanjutnya dipentaskanlah adegan
inti yang isinya adalah sesuai dengan kondisi dimana seni reog itu
ditampikan pada acara apa. Misalkan jika berhungangan dengan pernikahan,
maka biasanya di adegan intu itu mereka menampilkan tarian adegan
percintaan. Atau misal berhubungan dengan khitanan, maka bisanya
bercerita tentang seorang pendekar.
Adegan dalamnseni ini biasanya tidak sesuai dengan skenario yang
telah dibuat. Untuk memeriahkan acara, selalu ada interkasi antara
dalang dengan para pemain, atau kadang-kadang juga dengan penontong yang
hadir. Apabila seroang pemain yang sedang tampil kelelahan, biasanya
dia digantikan oleh pemain yang lain. Namun dari itu semua, hal yang
terpenting juga adalah kepuasan yang bisa dirasakan oleh penonton itu
sendiri. Pada adegan terakhir dari pementasan seni ini adalah Singa
Barong. Para pemain menggunakan topeng yang berbentuk kepala singa
dengan mahkota yang terbuat dari bulu merak. Asal kamu tau saja, berat
topeng itu bisa mencapai 50-60 kg. Topeng itu mereka bawa dengan
menggunakan giginya. kemampuan yang diluar nalar itu mereka dapat dengan
latihan yang berat, yang didalamnya juga terdapat latihan spiritual
seperti berpuasa dan tapa.
Gambar dan Foto Reog Ponorogo

bornjavanese.blogspot.com

flickr.com

static.panoramio.com

blogdetik.com

beritadaerah.co.id

khabarjoss.wordpress.com

wikimedia.org

google.com